Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2015

Pindah ke Rumah Hijau

Hay, ga mencoba untuk melankolis apalagi puitis. Hanya... ingin bercerita tentang panjangnya hari ini. Malam ini pintu itu tidak akan terbuka, cahaya lampu pun akan mati, dan lagu-lagu baru dari Korea yang terus berulang-ulang tidak lagi terdengar. Dia si pemilik bilik tidak akan tertidur lelap di tempatnya. Malam ini hingga beberapa malam lain, dia akan berada di tempat lain. Mengistirahatkan bagian tubuh yang terbentur hari ini. Selamat istirahat, segera kembali ke bilikmu yang berseberangan dengan bilikku. Untuk kamu yang terbalut baju hijau yang sedang pindah ke rumah hijau.

Tidurnya Si Potensi

Adakalanya rasa ingin menyerah melampaui seluruh perasaan. Sayangnya, satu-satunya pilihan hanyalah maju ke depan. Menghadapi apa pun yang berada di hadapan. Segala rintangan mau tidak mau harus dilalui, saat itulah tanpa sadar batas kemampuan kita dapat terlampaui. Ada sebuah pengalaman menarik ketika body rafting di Curug Naga. Ketika pilihan yang dimiliki peserta hanyalah melompat ke sungai, setakut apa pun mereka setiap orang pasti akan melompat. Beda cerita ketika ada pilihan lain, peserta dengan fobia ketinggian tentu menolak mentah-mentah tawaran untuk meloncat. Sama halnya dengan ketakutan masuk ke hutan. Sayangnya tidak ada pilihan lain karena saya termasuk mahasiswa kehutanan. Ke luar masuk hutan, pergi ke sana ke mari, harusnya menjadi hal biasa. Faktor "kepepet" nyatanya mampu membantu kita untuk melakukan hal luar biasa. Suatu tindakan yang mungkin kita sendiri pun tidak pernah berpikir mampu melakukannya. Sebenarnya kita punya potensi besar yang terpendam jau...

Cerita tentang Si Ubi Manis

Ubi mulai menutup hatinya. Berbicara dengan nada standar dan kadang sedikit emosi. Ia marah dengan hal kecil yang selalu mengusik dirinya. Ubi memang terlihat kusam meski manis di bagian dalam. Sayangnya, ia belum benar-benar menjadi demikian. Manis dan legitnya Ubi belum juga terasa. Katanya, ia harus melewati masa sulit sebelum keindahan itu hadir. Panas pun mulai datang, menjalar ke setiap bagian tubuhnya. Kerasnya Ubi perlahan berubah, menghadirkan asap yang keluar dengan aroma manis yang menyebar. Ketika itulah kita tahu, manisnya Ubi sudah dapat  dirasakan. Ia telah matang. Dari keras menjadi lembut, dari hambar menjadi manis. Sebuah perubahan yang hadir dari pemanasan maksimal. Setiap kita mampu berubah dari gelap menjadi terang, dari buruk menjadi baik. Dua sisi yang berbeda ini memiliki jembatan panjang yang harus dilewati jika kita ingin menyeberang. Jembatan tersebut biasa disebut proses.

Hujan

Hujan datang setelah Awan berkumpul dan ketika Langit berubah menjadi gelap. Hujan seperti menyudahi kepenatan Langit yang tidak juga berujung. Awalnya kita pikir Awan mencari masalah dengan menumpuk menutupi Langit. Kenyataannya, ia membantu Langit meluapkan sedihnya. Hujan adalah cerita lain tentang tangisan, keindahan, hingga menjadi bahagia. Katanya ia anugerah, berkah, bagi seluruh alam. Hujan menjadi kisah tersendiri yang selalu ditunggu sayangnya lebih sering dicaci. Bagi Langit, Hujan menjadi sahabat yang paling diharapkan kehadirannya. Ia selalu saja menunggu kapan Hujan akan datang.

...

Langit tidak mampu berkata-kata. Waktunya seperti terhenti dan begitu saja meninggalkan banyak hal. Langit ingin sepi tapi sayangnya tidak juga demikian. Langit... sudah tidak mampu bersandiwara lagi.

Cara-Nya Mengajarkan Kita

Oh.. begini toh rasanya dicintai . Begini ya rasanya merindu. Jauh, mengajarkan saya dua perasaan tersebut. Perasaan yang hanya muncul ketika ada hal yang hilang dari keseharian kita. Ini bukan sebuah kegalauan atau curhat yang terlalu berlebihan. Hanya sebuah perasaan syukur yang selalu saja terucap. Berkali-kali saya bersyukur diizinkan merasakan perasaan tersebut. Allah membuat perasaan yang selalu saja terbenam itu muncul. Meninggalkan rasa bahagia dianugerahi kehidupan penuh kecukupan hati. Cinta yang saya terima adalah kecukupan luar biasa yang mampu menentramkan. Allah selalu mengajarkan kita dengan caranya. Hidup jauh misalnya, ternyata menjadi cara ampuh membuat saya begitu menghargai arti sebuah perhatian, rindu, cinta, dan keluarga. Merasakan kesendirian di dalam ruang sempit bernama kosan. Menyibukkan diri demi melupakan kerinduan. Kadang kita tidak pernah sadar sesuatu berarti hingga ia menjauh.

Langit (4)

Langit seperti tidak mau mendengar apapun. Bintang memang sudah banyak membantu tapi tidak begitu saja merubah sesuatu. Matahari kembali bercerita dan kini mengajak Awan. Entahlah mengapa harus Awan yang hadir di sini. Mungkin untuk menjadi perantara lain, pikir Langit demikian. Awalnya ia tidak mau masuk ke dalam cerita bercerita ini. Sayangnya, pembicaraan Awan dan Matahari sangat bersangkut paut dengan Langit. Cerita mengalir, memulai kisah dari hulu ke hilir tapi tidak mampu mencapai lautan luas. Bulan belum juga angkat bicara, inilah yang membuat percakapan mereka tidak juga berujung. Sekali lagi, pikiran Langit memang benar. Mereka perlu duduk manis meski bercerita terlalu sadis. "Sudahlah," pada akhirnya kata-kata itu yang keluar dari mulut Awan. Ini memang tidak sederhana sehingga perlu disederhanakan. Meluruskan pikiran agar mampu berjalan lebih baik lagi. Hingga menunggu merupakan solusi terbaik yang bisa dilakukan Matahari.

Langit (3)

Malam mulai datang. Bulan tetap diam seperti tidak pernah mendengar perkataan Langit. Mungkin, ia butuh istirahat dan berpikir. Sambil termenung, Langit melihat ke sekeliling. Ada cahaya kecil yang menghiasi malam. "Hai, Langit! Apa kabar?" Tanya Bintang dengan suara riang. Sudah lama keduanya tidak saling menyapa. Hanya bertukar pandang dan senyum yang tersimpul. Mereka memang tidak dekat, tapi tidak ada salahnya bila Langit meminta saran dari Bintang. Sosok menyenangkan dan punya banyak cerita untuk dikisahkan. "Tidak begitu baik. Bagaimana denganmu?" Tanya Langit berharap Bintang mampu memahami perasaannya. Benar saja, Bintang tidak menanyakan banyak hal lagi. Ia pun mulai bercerita dengan kesimpulan yang mampu menentramkan Langit. "Tahukah kamu? Ada sebuah cerita di Galaksi lain. Dipenuhi Matahari, Bulan, Langit, dan Manusia. Mereka selalu punya masalah, tapi selalu ada solusi." Bintang memulai dongeng indahnya tentang Galaksi lain yang tidak pernah...

Langit (2)

Kini giliran Langit yang bercerita. Menyampaikan kata seringkas mungkin berharap Bulan dapat memahami maksudnya. Ia bertanya-tanya, akankah Matahari dapat mendukungnya? Akankah Bulan mau berbicara? Langit merasa serba salah. Kadang ia merasa Matahari ingin seperti Langit yang lebih sering bertemu Bulan. Kadang Bulan hanya bisa diam karena Langit selalu punya cerita seru bersama Matahari. Langit sangat ingin pergi, kalau bisa menghilang sejenak dari keduanya. Sudah lelah rupanya ia. Muak mendengar cerita sana-sini, termasuk Angkasa yang pernah menyampaikan pesan dari Bulan. Benarkah Langit salah berpijak? Tidak, tidak ada yang salah berpijak. Ini sudah ditakdirkan bahkan sebelum mereka bertemu. "Wahai Angkasa yang menjadi perantara pertemuan, haruskah aku berbagi kisah?" Kata Langit meminta belas kasih pada Angkasa. Sayangnya ia sudah semakin jauh saja. Langit sangat ingin bertemu dan berbicara bersama kedua sahabatnya itu. Duduk dengan tenang bercerita dari hulu ke hilir. ...