Ada satu cerita yang rasanya ‘nyes’ banget, antara sedih sekaligus damai. Kamis pagi itu, ada seorang tetangga yang datang dan mengajak Ibu ngobrol. Aku juga ada di sana kok, Yah. Hingga sampai pada suatu percakapan seperti ini. “Ayah suka ke pemandian air panas. Mau ke sana lagi, eh, sampai meninggal gak keturutan.” kata Ibu dengan nada sedih. “Yaudah, gak apa-apa, Bu. Di surga nanti ada yang lebih indah dari itu.” kataku menanggapi. Sebenarnya aku juga gak sadar akan bicara seperti itu. Barangkali Allah sedang mengingatkan ku melalui lisan ku sendiri ya, Yah. Benar, sih. InsyaAllah di akhirat kelak kita akan lebih bahagia dari pada di dunia. Kalau kumpul bersama keluarga dan jalan-jalan dengan mereka aja sudah buat aku bahagia, di akhirat nanti pasti lebih bahagia dari itu kan? Berkumpul dengan orang yang kita cintai. Orientasi hidup kita yang sesungguhnya kan akhirat. Jangan apa-apa orientasinya dunia. Merasa sedih ditinggal Ayah yang sebenarnya cuma berjala...
Setiap orang punya bobot waktunya masing-masing. Apa yang kamu lihat dari dirinya saat ini, itu hasil usaha dia selama ini. --- Siapa yang tidak kenal dengan BoA? Ya, pasti ada aja yang kenal. Tapi buat mereka yang suka Korea, harusnya tau penyanyi legendaris yang satu ini. BoA tergolong idol yang cukup lama terjun di industri musik Korea. Dia debut di usia belia, telah menjadi ‘seseorang’ di usia 20-an, dan di usia 30 ini dia sudah punya jabatan di SM Ent. Loh, kok ngomongin KPOP? Eits, kita gak akan ngomongin KPOP kok. Saya juga gak kenal banget sama BoA. Even , nama aslinya aja gak tau. Cuma tau nama keluarganya, Kwon. Jadi gini, sebenarnya saya baru nonton All The Buttler episode terbaru. Biasanya nonton variety show (varshow) ini emang karena suka dengan acaranya. Jarang banget tertarik dengan bintang tamunya. Nah, kali ini saya penasaran banget dengan BoA. Katanya dia debut setelah lulus SD dan terkenal di luar negeri. BoA bisa dibilang ‘dewasa di usia mu...
Setiap orang punya semestanya masing-masing. Bukan untuk lari dari kenyataan, tapi lebih kepada membentuk ruang sendiri. Ruang untuk menyelami hati, meluapkan emosi, atau sekedar diam menatap kekosongan. Kita membutuhkannya, karena dengan begitulah kita bisa bertahan hidup. Setiap orang punya caranya sendiri untuk masuk ke semesta yang mereka ciptakan. Ada yang baru bisa masuk setelah melakukan perjalanan seorang diri. Ada yang harus menunggu kesunyian malam berdua dengan Sang Pemilik Hati. Ada pula yang punya berbagai cara untuk masuk ke dalam semestanya. Aku pun punya semesta. Kadang masuk dengan menyendiri di pojok ruangan lalu bercerita pada Tuhan. Kadang pergi berkeliling kota mencari cerita untuk di koleksi. Kadang menulis sambil menyelami semesta. Kadang sekedar membuka album foto untuk menelisik masa lalu. Sekarang aku punya semesta baru. Di dalamnya ada aku dan Ayah. Jika kemarin aku yang lebih sering mendengar ceritanya, maka mulai hari ini biar aku yang be...
Komentar