Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2014

selamat malam

malam. selamat menikmati malam gerimis di kota hujan. malam-malam lain di ruang 3m x 3m bersama laptop yang setia menemani. hari-hari terakhir menjadikan kosan sebagai rumah kedua setelah tempat itu. hari-hari terakhir menjadikan tempat itu sebagai 'escape place' dari segala kepenatan hari. kadang tempat itu tidak hanya menjadi tempat 'kabur' tapi juga tempat belajar dan mencari teman. ada perasaan di mana ingin berada di sana. terus menerus berada di tempat yang paling bisa menjadi 'aku'. pun jika tetap di sana hingga tahun berikutnya, nyatanya semua akan berubah. sesuatu yang dicari belum tentu tepat sasaran. banyak hal yang berubah, hilang ditelan perubahan yang seketika datang. lalu, aku berfikir benarkah semua ini akan hilang seketika? bisakah ia hilang perlahan. saat hari-hari beranjak begitu cepat meninggalkan sisa-sisa udara di waktu sebelumnya. meninggalkan 'tadi' menjadi 'kenangan'. meraih 'nanti' menjadi 'sekarang'. b...

Saldina

Senin, 20 Oktober 2014 / 20.43 / Wisma Saldina, Babakan Lio ‘Apa hal yang paling menyedihkan?’ Pertanyaan ini sedikit menggangu dan sejenak membuat otak ini bekerja. Mungkin banyak hal yang menyedihkan tapi apa yang tersedih dari yang paling sedih? Lalu, semua ini mengingatkan pada seseorang yang disayang, dirindukan, tapi sulit ditemui, setidaknya untuk saat ini di dunia ini. Sedih dan menyakitkan karena meski keinginan untuk bertemu sangat besar, nyatanya itu hanya keinginan semu. Pada akhirnya kita sadar itu tidak mungkin, perlahan entah kenapa semua cerita tentang mereka yang dirindukan hilang. Berubah menjadi seperti mimpi, mimpi di siang hari yang bahkan kita tidak yakin bahwa itu mimpi. Sesuatu yang sulit dipercaya bahwa semua itu ada. Sama halnya dengan fase kehidupan yang pernah kita lewati. Seberapapun kita ingin kembali, seberapapun masa itu sangat berarti, kenyataannya semua itu telah berlalu dan telah berubah menjadi ‘kenangan’. Esok menjadi hari ini, hari ini...

Jakarta - Bogor

Dulu rasanya sangat jauh. Sangat lelah jika harus bulak balik, itulah yang aku pikirkan. Mungkin setelah terbiasa, semua terasa lebih dekat. Jarak berkilo-kilo meter, waktu selama 2 jam, terasa lebih baik dari pada harus berkutat dengan jalanan menuju HI waktu itu. Pergi ke SMAN 54 juga terasa berat padahal itu lebih dekat. Mungkin, mungkin bukan masalah jarak atau waktu, tapi hati. Mana yang lebih terasa ringan dan nyaman untuk melangkah...